BUDAYA DAYAK KHANAYATN YANG MASIH DILESTARIKAN
Bangsa Indonesia merupakan bangsa majemuk yang memiliki beragam budaya. Sejak zaman dahulu, Indonesia dikenal dengan keberagaman budayanya. Keberagaman budaya ini, atau yang disebut juga dengan cultural diversity, adalah keniscayaan yang ada di muka bumi. Keberagaman budaya di Indonesia tidak dapat dihapuskan lagi karena sudah menjadi ciri khas bangsa Indonesia yang membedakannya dari bangsa lain.1
Keberagaman suku dan budaya yang ada di Indonesia salah satunya terdapat di Pulau Kalimantan, yaitu Suku Dayak. Berdasarkan sensus tahun 2010, suku bangsa paling dominan di Kalimantan Barat adalah Dayak (34,93%) dan Melayu (33,84%). Suku Dayak dan Melayu hampir seimbang jumlahnya, namun Suku Dayak menempati posisi yang cukup tinggi penduduknya di Kalimantan Barat.
Dayak Kanayatn merupakan salah satu sub-suku Dayak terbesar yang mencakup sekitar sepertiga dari populasi Dayak di Kalimantan Barat. Etnik Dayak Kanayatn meyakini adanya dua alam kehidupan, yaitu kehidupan alam nyata dan kehidupan alam maya. Kedua alam ini saling mempengaruhi satu sama lain. Untuk menjaga keseimbangan antara kehidupan alam nyata dan alam maya, serta untuk menata seluruh aspek kehidupan warga (hubungan antar sesama warga, hubungan warga dengan alam lingkungan, serta penciptanya/Jubata) agar tetap serasi dan harmonis, nenek moyang mereka telah menyusun secara arif dan bijaksana aturan yang terangkum dalam adat.4
Salah satu tradisi masyarakat Dayak adalah upacara adat Naik Dango. Naik Dango merupakan apresiasi kebudayaan masyarakat adat Dayak Kanayatn di Kalimantan Barat, yang rata-rata berprofesi sebagai petani. Makna dari upacara Naik Dango bagi masyarakat suku Dayak adalah sebagai bentuk ungkapan rasa syukur atas karunia Jubata (Tuhan) kepada Talino (manusia) karena telah memberikan padi sebagai makanan. Selain itu, upacara adat ini juga menjadi pertanda penutupan tahun berladang dan sebagai sarana bersilaturahmi untuk mempererat hubungan persaudaraan atau solidaritas.5
Menurut informasi hasil wawancara dengan Bapak Daud, Temenggung Kecamatan Sungai Kunyit, upacara adat Naik Dango dilakukan setiap tahun di rumah radank. Namun sebelum melaksanakan tradisi adat Naik Dango ini, masyarakat suku Dayak wajib melaksanakan tradisi adat Gawai Padi terlebih dahulu. Gawai Padi merupakan tradisi adat ucapan syukur atas panen padi. Tradisi ini dilakukan di Gunung Keramat Ipuh yang berada di Desa Bukit Batu, Dusun Kembang Lada Rt 007/Rw 003 dengan membawa ayam setiap tahunnya. Namun, ketika sudah memasuki tahun ketiga, ritual Gawai Padi harus menggunakan babi dalam pelaksanaan ritual adat di atas gunung tersebut. Setelah dilaksanakannya tradisi adat Gawai Padi, maka menandakan bahwa kegiatan adat Naik Dango akan segera dimulai.
Pada kegiatan upacara Naik Dango, dilaksanakan berbagai ritual adat seperti membawa benih padi, memasak tumpi poe’, dan menyampaikan mantra pada ayam sebagai bentuk syukur kepada Yang Maha Kuasa atas berkat yang telah diberikan kepada manusia. Upacara Naik Dango juga diiringi dengan tari-tarian, demonstrasi cara bercocok tanam, menunggal padi, menampi padi, dan menanam padi baik di gunung maupun di sawah. Upacara adat Naik Dango ini menceritakan sejarah lengkap tentang proses menanam padi. Naik Dango juga diselenggarakan di setiap kecamatan, dengan setiap kontingen wajib membawa sejenis panompo, yang berisi ayam dan benih padi.
Setelah terlaksananya tradisi adat Naik Dango, masyarakat suku Dayak harus menjalankan ritual adat Balala Nagari. Balala Nagari menandakan bahwa Naik Dango telah berakhir dan masa tanam yang baru akan dimulai. Balala Nagari dapat diartikan sebagai ritual adat tolak bala. Tradisi adat Balala Nagari bertujuan untuk membersihkan situasi alam semesta agar aktivitas pertanian mendapatkan hasil yang maksimal. Dalam pelaksanaan Balala Nagari, masyarakat suku Dayak diwajibkan untuk tidak beraktivitas di luar rumah. Namun, waktu pelaksanaan ritual adat tersebut dapat disesuaikan tergantung situasi.
Adat Balala dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai Adat Berpantang. Pengertian tradisi Adat Balala adalah “Balala,” yaitu membuang sial, badi, dan segala macam penyakit dari tahun sebelumnya sehingga tidak lagi terjadi. Masyarakat Suku Dayak Kanayatn selalu menjaga budaya ini karena adat Balala merupakan warisan dari nenek moyang mereka yang harus dan wajib untuk terus dilaksanakan. Oleh karena itu, adat Balala ini menjadi agenda wajib tahunan masyarakat Suku Dayak Kanayatn.3
Upacara adat yang dimaksud adalah Upacara Balala, di mana masyarakat tidak boleh beraktivitas di luar rumah. Upacara ini merupakan upacara buang sial yang dilaksanakan setahun sekali, tepatnya pada bulan keempat, dan dilakukan selama dua malam tiga hari. Dalam upacara Balala, semua arwah leluhur atau Pama dan Nyabata dipanggi untuk ikut serta dalam upacara tersebut.6
Sejauh ini, PT BAI selalu mendukung dan berpartisipasi dalam melestarikan budaya yang ada di sekitar lokasi proyeknya, salah satunya adalah budaya Naik Dango. Naik Dango merupakan salah satu program tahunan yang menjadi tanggung jawab perusahaan. Pada Naik Dango ke-XXXIX 2024, PT BAI turut berpartisipasi dalam mensukseskan kegiatan tersebut. Selain memberikan dukungan, PT BAI juga membantu memasarkan produk-produk UKM binaan perusahaan dengan membuka stand UKM dan photobooth. Aksi ini dilakukan untuk menjalin tali silaturahmi dengan masyarakat sekitar, sehingga mereka dapat berkunjung ke stand perusahaan.
Setelah dilaksanakannya adat Naik Dango, masyarakat suku Dayak menjalankan adat Balala. Seperti yang telah disampaikan di atas, adat Balala merupakan tradisi yang wajib dilaksanakan setelah upacara Naik Dango. PT BAI juga selalu memberikan dukungan dan partisipasi dalam melestarikan budaya masyarakat Suku Dayak, termasuk dalam pelaksanaan adat Balala.
Referensi:
- Nurul Akhmad. Ensiklopedia Keragaman Budaya. ALPRIN; 2020.
- Wikipedia. Kalimantan Barat. Wikipedia.
- Yovanka Tasya Avrina I, Firmansyah A, Mirzachaerulsyah E. Nilai-Nilai Dan Upaya Pelestarian Tradisi Adat Balala’ Pada Suku Dayak Kanayatn Di Dusun Pate Desa Saham Kecamatan Sengah Temila Kabupaten Landak. J Pendidik dan Pembelajaran Khatulistiwa. 2021;10(3):1-10.
- Arda Dinata dkk. RADAKNG Rumah Sehat Jubata Etnik Dayak Kanayatn Kabupaten Landak. LEMBAGA PENERBITAN BALITBANGKES; 2014.
- Pram. Suku Bangsa Dunia Dan Kebudayaannya. Cerdas Interaktif; 2013.
- Bagong V, Priyadi AT, Seli S. Struktur dan Makna Mantra dalam Upacara Balala Dayak Bakati dan Rencana Implementasi dalam Pembelajaran Sastra. J Pendidik dan Pembelajaran Khatulistiwa. 2019;8(1):1-8.